Rasanya
menyebalkan jika aku tak mengetahui isi hatimu. Kamu sangat sulit ditebak, kamu
punya teka teki yang punya banyak jawaban, juga banyak tafsiran. Aku takut
menterjemahkan isyarat isyarat yang kau tunjukkan padaku. Aku takut mengartikan
kata kata manismu yang mungkin saja tak kau ucapkan hanya untukku. Aku takut
mempercayai perhatian sederhana yang kau perlihatkan secara terselubung
kepadaku. Aku takut.. takut… Semakin takut jika perasaan ini tumbuh kearah yang
tak kuinginkan.
Tolong
hentikan langkahku, jika memang segalanya yang kuduga benar adalah hal yang
salah dimatamu. Tolong kembalikan jalanku yang dulu, sebelum aku mengganggu
rute tujuanmu. Ketahuilah gitarisku.. aku sedang melawan jutaan kamu yang mulai
mengepul otakku, seperti asap rokok yang menggantung di udara. Kamu itu seakan
akan nyata, aku tak percaya kalau kita bisa melangkah sejauh ini. Dan selama
ini juga, aku tak pernah berani mengatakan satu hal yang mungkin dapat
mengagetkanmu. Aku mulai menyukaimu..
Petikan
gitarmu yang selalu kutunggu, chat-an itu yang selalu kunantikan. Kamu bukan
laki-laki hebat seperti para actor diluar sana, kamu juga tidak bergelimpangan
harta, namun kamu punya cara tersendiri yang menjadikan kamu perlahan lahan
sebagai peran utama di dalam kehidupanku.
Mungkinkah
aku harus pergi? Sementara kita sudah mulai nyaman dengan yang kita jalani. Hey,
aku duduk disini sendiri, dengan rasa takut yang mungkin juga kurasakan
sendiri. Aku takut jika perpisahan ini pada akhirnya menjadi pilihan kita.
Ketakutanku semakin lengkap saat aku menyadari bahwa kita beribadah ditempat yang berbeda. Apakah kita melakukan sebuah
kesalahan dan dosa terindah?
Malam
ini aku baru menyadari satu hal, aku…. Hey, aku benar benar menyukaimu. Itu
terlihat saat aku merasakan suatu gejolak marah dan cemburu saat kamu
bercengkrama dengan wanita lain. Hahaha aneh? Iya itu memang aku. Aku menjadi
aneh setelah mengenalmu. Air mata ini tiba tiba menetes karnamu, aku tak
mengerti apa yang sedang kurasakan. Mungkin aku telah salah melangkah..
Aku
yang akan pergi. Aku sadar bahwa selama ini kita hanya bersama namun tidak
untuk bersatu. Sampai kapan pun bumi dan langit tak kan pernah setuju..